TECTONIC2010

Second Year Studio

Project 2 - Daniel Elfresh

(download)

Project 2 - Stephanie

(download)

Project 2 - Ike Puspa [3]

Your browser may not support display of this image. The Death of Marat

Lukisan The death of Marat merupakan salah satu lukisan yang kontroversial dari Jacques Louis David. Lukisan ini dibuat ketika masa revolusi Perancis sedang berlangsung dimana sang Marat merupakan salah satu tokoh yang mendukung hukuman pancung bagi para pemberontak. Nasib yang tragis kemudian menimpa Marat dan ia tewas dibunuh oleh seorang wanita dari pihak pemberontak, Coday. Pada lukisan ini yang menarik adalah David menggambarkan Marat sebagai seorang saint dan bukanlah seorang yang jahat pada masa revolusi tersebut. Dari lukisan ini, dapat dilihat bahwa Marat tewas dalam sebuah ruangan yang sempit dan gelap dan hanya disinari oleh sebuah cahaya yang kecil. Kronologis peristiwa ini kemudian diterapkan ke dalam desain bangunan.

Site terletak pada pinggir sungai dimana terdapat sebuah bukit yang terjal. Pendekatan desain pada bangunan ini cukup kontras. Berangkat dari kata ‘tajam’ yang menggambarkan lukisan tersebut, desain tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk diagram 2 dimensi dan 3 dimensi. Space yang tercipta tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bangunan dan disesuaikan dengan fungsi dan programnya.

Pemilihan program pada bangunan yang kemudian berfungsi sebagai wine house, berawal dari keterkaitan sejarah dan tempat terjadinya revolusi Perancis. Pada masa revolusi, wine sudah diproduksi dan menjadi minuman kebanggaan bagi keluarga bangsawan. Proses menikmati wine juga hampir sama dengan proses menikmati lukisan, sehingga kedua program ini digabung menjadi satu.

Penggabungan antara diagram dan program dapat terlihat pada bangunan ini dimana terdapat repetisi kedua bentuk segitiga yang saling berlawanan dan kemudian terdapat sebilah kaca yang membelah kedua bagian tersebut. Pada bangunan ini juga dapat dilihat repetisi bentuk yang sama. Satu berfungsi sebagai eksterior yang berfungsi sebagai ramp dan juga tempat duduk untuk menikmati lukisan yang ada di luar dan satu lagi berada di interior yang berfungsi sebagai ramp.

Sekuens ruang juga diatur sedemikian rupa untuk menyerupai sekuens yang terjadi pada lukisan. Berawal dari eksterior yang kemudian diantarkan pada sebuah ruang yang gelap dan sempit dan kemudian berakhir pada sebuah ruangan yang hanya diterangi oleh sebuah cahaya kecil yang berasal dari kaca pada bagian atas bangunan. Bagian klimaks tersebutlah yang berfungsi sebagai ruang minum wine bagi user sambil melihat lukisan the death of marat.

Lantai di atasnya merupakan bagian servis sehingga user tidak diperkenankan melihat ataupun mengetahui proses pembuatan dan penyediaan wine, sehingga user dapat fokus pada wine dan juga lukisannya.


(download)

 

Project 2 - Ike Puspa [2]

(download)

PROJECT 2 - Monica Maya [2]

(download)

PROJECT 2 - Monica Maya

Rothko dan lukisannya, sangat identik dengan kata “mencekam” yang
dapat ditranlasikan sebagai suatu keadaan yang membuat kita merasa
tersudut dan resah. Lukisan-lukisan Rothko pada umumnya memiliki warna
yang sendu, memiliki arti yang dalam, serta berkesan miris. Itulah
yang membuat saya memilih kata “mencekam” sebagai ciri khas Rothko,
dan hal itu pula yang menginspirasi saya untuk mentransformasikan
kata-kata tersebut ke dalam bentuk visual.

Dengan analisis yang saya lakukan, dapat ditarik kesimpulan, bahwa
pada lukisan Rothko warna yang bersinggungan tidak bertabrakan begitu
saja,ada gradasinya. Dalam diagram yang saya buat, saya menunjukkannya
dengan permainan garis dari tebal menjadi tipis atau sebaliknya
sehingga membentuk suatu movement.

Melalui proses pembuatan diagram 2 dimensi ke 3 dimensi , saya
mendapatkan suatu bentuk yang unik yang pada akhirnya menjadi desain
dari Rothko Chapel tersebut.

Rothko Chapel yang saya maksud bukanlah suatu tempat ibadah dengan
kegiatan-kegiatan gerejawi di dalamnya namun merupakan suatu galeri
seni yang dapat berfungsi sebagai tempat spiritual juga. Terinspirasi
dari Rothko Chapel yang sudah ada sebelumnya, saya menginginkan suatu
tempat galeri seni yang berfungsi sebagai tempat refleksi diri.
Lukisan Rothko di sana bukan hanya dinikmati sebagai objek seni
semata, namun juga diresapi maknanya, karena lukisan Rothko ini
sendiri memiliki makna-makna yang cukup dalam.

Rothko Chapel bukanlah tempat komersil yang berusaha menarik
pengunjung sebanyak-banyaknya, Rothko Chapel merupakan tempat yang
sifatnya individualis, datang untuk kepentingan diri sendiri, jadi
pengunjungnya tidak akan ramai.

Desain Rothko Chapel mengalami banyak repetisi bentuk, dengan focal
pointnya adalah menara tangga yang memiliki jendela segitiga raksasa
sebagai icon dari bangunan ini. Karena dipotong jalan, bangunan dibagi
menjadi 2 bagian. Bagian pertama berisi 2 galeri utama. Bagian kedua
berisi 3 galeri pendukung, kantor, dan cafe. Untuk menyatukan 2
bagian tersebut dibuat plaza. Entrance dari bagian pertama adalah
tangga putar, entrance dari bagian kedua adalah bangunan office yang
menjorok ke sungai. Jadi untuk megakses galeri pendukung terlebih
dahulu harus melalui bangunan office, jadi lebih terawasi.

Untuk mengakses galeri-galeri pendukung dibuat ramp yang cukup panjang
sehingga visitor dapat berjalan dengan santai sambil menikmati
pemandangan. Ada pula tangga yang berada di menara tinggi, karena
menara cukup tinggi, maka akan terjadi gema dari suara kaki yang akan
membuat tangga tersebut terkesan mencekam. Pada bagian atasnya
terdapat skylight, seperti suatu titik terang yang mendorong
pengunjung untuk naik.

Pertanyaan besar dari desain ini adalah mengapa bentuknya seperti
limas yang bersudut .

Yang pertama, bentuk tersebut memiliki movement. Bila visitor berjalan
dan merlihat facade dari bangunan maka akan terlihat seperti kipas
yang bergerak. Bentuk yang bersudut sebenarnya untuk menunjukkan rasa
mencekam pada bangunan ini. Karena selama ini, bangunan-bangunan
seperti museum ataupun galeri memiliki bentuk yang simetri dengan
banyak sudut, namun pada desain ini hanya terdapat 1 sudut pada
masing-masing bangunan yang menunjukkan bahwa semuanya memiliki 1
titik akhir seperti lukisan rothko, yang mengintimidasi mata kita
bahwa lukisan tersebut memiliki 1 titik fokus. Seperti bingkai yang
bersifat perspektif 1 titik hilang.

(download)

Workshop 4 - Opening Day.

Kevin Low's Opening Lecture about Tectonic and Site Observation.

(download)

Workshop 2 - Yuni

(download)

Posted March 29, 2010 by email 

Workshop 2 - Avliya Asya

(download)

Posted March 29, 2010 by email 

Workshop 2 - Endy

(download)

Posted March 29, 2010 by email